Friday, December 9, 2011

MENGELOLA KONFLIK ORGANISASI

Konflik berasal dari kata kerja Latin configere yang berarti saling memukul. Secara sosiologis, konflik diartikan sebagai suatu proses sosial antara dua orang atau lebih (bisa juga kelompok) dimana salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkannya atau membuatnya tidak berdaya.
Konflik dilatarbelakangi oleh perbedaan ciri-ciri yang dibawa individu dalam suatu interaksi. perbedaan-perbedaan tersebut diantaranya adalah menyangkut ciri fisik, kepandaian, pengetahuan, adat istiadat, keyakinan, dan lain sebagainya. Dengan dibawasertanya ciri-ciri individual dalam interaksi sosial, konflik merupakan situasi yang wajar dalam setiapmasyarakat dan tidak satu masyarakat pun yang tidak pernah mengalami konflik antar anggotanya atau dengan kelompok masyarakat lainnya, konflik hanya akan hilang bersamaan dengan hilangnya masyarakat itu sendiri. Konflik bertentangan dengan integrasi. Konflik dan Integrasi berjalan sebagai sebuah siklus di masyarakat. Konflik yang terkontrol akan menghasilkan integrasi. sebaliknya, integrasi yang tidak sempurna dapat menciptakan konflik.

Ada beberapa pengertian konflik menurut beberapa ahli :
  1. Menurut Taquiri dalam Newstorm dan Davis (1977), konflik merupakan warisan kehidupan sosial yang boleh berlaku dalam berbagai keadaan akibat daripada berbangkitnya keadaan ketidaksetujuan, kontroversi dan pertentangan di antara dua pihak atau lebih pihak secara berterusan.
  2. Menurut Gibson, et al (1997: 437), hubungan selain dapat menciptakan kerjasama, hubungan saling tergantung dapat pula melahirkan konflik. Hal ini terjadi jika masing – masing komponen organisasi memiliki kepentingan atau tujuan sendiri – sendiri dan tidak bekerja sama satu sama lain.
  3. Menurut Robbin (1996), keberadaan konflik dalam organisasi dalam organisasi ditentukan oleh persepsi individu atau kelompok. Jika mereka tidak menyadari adanya konflik di dalam organisasi maka secara umum konflik tersebut dianggap tidak ada. Sebaliknya, jika mereka mempersepsikan bahwa di dalam organisasi telah ada konflik maka konflik tersebut telah menjadi kenyataan.
  4. Dipandang sebagai perilaku, konflik merupakan bentuk minteraktif yang terjadi pada tingkatan individual, interpersonal, kelompok atau pada tingkatan organisasi (Muchlas, 1999). Konflik ini terutama pada tingkatan individual yang sangat dekat hubungannya dengan stres.
  5. Menurut Minnery (1985), Konflik organisasi merupakan interaksi antara dua atau lebih pihak yang satu sama lain berhubungan dan saling tergantung, namun terpisahkan oleh perbedaan tujuan.
  6. Konflik dalam organisasi sering terjadi tidak simetris terjadi hanya satu pihak yang sadar dan memberikan respon terhadap konflik tersebut. Atau, satu pihak mempersepsikan adanya pihak lain yang telah atau akan menyerang secara negatif (Robbins, 1993).
  7. Konflik merupakan ekspresi pertikaian antara individu dengan individu lain, kelompok dengan kelompok lain karena beberapa alasan. Dalam pandangan ini, pertikaian menunjukkan adanya perbedaan antara dua atau lebih individu yang diekspresikan, diingat, dan dialami (Pace & Faules, 1994:249).
  8. Konflik dapat dirasakan, diketahui, diekspresikan melalui perilaku-perilaku komunikasi (Folger & Poole: 1984).
  9. Konflik senantisa berpusat pada beberapa penyebab utama, yakni tujuan yang ingin dicapai, alokasi sumber – sumber yang dibagikan, keputusan yang diambil, maupun perilaku setiap pihak yang terlibat (Myers,1982:234-237; Kreps, 1986:185; Stewart, 1993:341).
  10. Interaksi yang disebut komunikasi antara individu yang satu dengan yang lainnya, tak dapat disangkal akan menimbulkan konflik dalam level yang berbeda – beda (Devito, 1995:381).

Teori-teori konflik :
Ada tiga teori konflik yang menonjol dalam ilmu sosial. Pertama adalah teori konflik C. Gerrtz, yaitu tentang primodialisme, kedua adalah teori konflik Karl. Marx, yaitu tentang pertentangan kelas, dan ketiga adalah teori konflik James Scott, yaitu tentang Patron Klien.

Faktor penyebab konflik :
  • Perbedaan individu, yang meliputi perbedaan pendirian dan perasaan.
Setiap manusia adalah individu yang unik. Artinya, setiap orang memiliki pendirian dan perasaan yang berbeda-beda satu dengan lainnya. Perbedaan pendirian dan perasaan akan sesuatu hal atau lingkungan yang nyata ini dapat menjadi faktor penyebab konflik sosial, sebab dalam menjalani hubungan sosial, seseorang tidak selalu sejalan dengan kelompoknya. Misalnya, ketika berlangsung pentas musik di lingkungan pemukiman, tentu perasaan setiap warganya akan berbeda-beda. Ada yang merasa terganggu karena berisik, tetapi ada pula yang merasa terhibur.
  • Perbedaan latar belakang kebudayaan sehingga membentuk pribadi-pribadi yang berbeda.
Seseorang sedikit banyak akan terpengaruh dengan pola-pola pemikiran dan pendirian kelompoknya. Pemikiran dan pendirian yang berbeda itu pada akhirnya akan menghasilkan perbedaan individu yang dapat memicu konflik.
  • Perbedaan kepentingan antara individu atau kelompok.
Manusia memiliki perasaan, pendirian maupun latar belakang kebudayaan yang berbeda. Oleh sebab itu, dalam waktu yang bersamaan, masing-masing orang atau kelompok memiliki kepentingan yang berbeda-beda. Kadang-kadang orang dapat melakukan hal yang sama, tetapi untuk tujuan yang berbeda-beda. Sebagai contoh, misalnya perbedaan kepentingan dalam hal pemanfaatan hutan. Para tokoh masyarakat menanggap hutan sebagai kekayaan budaya yang menjadi bagian dari kebudayaan mereka sehingga harus dijaga dan tidak boleh ditebang. Para petani menbang pohon-pohon karena dianggap sebagai penghalang bagi mereka untuk membuat kebun atau ladang. Bagi para pengusaha kayu, pohon-pohon ditebang dan kemudian kayunya diekspor guna mendapatkan uang dan membuka pekerjaan. Sedangkan bagi pecinta lingkungan, hutan adalah bagian dari lingkungan sehingga harus dilestarikan. Di sini jelas terlihat ada perbedaan kepentingan antara satu kelompok dengan kelompok lainnya sehingga akan mendatangkan konflik sosial di masyarakat. Konflik akibat perbedaan kepentingan ini dapat pula menyangkut bidang politikekonomisosial, dan budaya. Begitu pula dapat terjadi antar kelompok atau antara kelompok dengan individu, misalnya konflik antara kelompok buruh dengan pengusaha yang terjadi karena perbedaan kepentingan di antara keduanya. Para buruh menginginkan upah yang memadai, sedangkan pengusaha menginginkan pendapatan yang besar untuk dinikmati sendiri dan memperbesar bidang serta volume usaha mereka.
  • Perubahan-perubahan nilai yang cepat dan mendadak dalam masyarakat.
Perubahan adalah sesuatu yang lazim dan wajar terjadi, tetapi jika perubahan itu berlangsung cepat atau bahkan mendadak, perubahan tersebut dapat memicu terjadinya konflik sosial. Misalnya, pada masyarakat pedesaan yang mengalami proses industrialisasi yang mendadak akan memunculkan konflik sosial sebab nilai-nilai lama pada masyarakat tradisional yang biasanya bercorak pertanian secara cepat berubah menjadi nilai-nilai masyarakat industri. Nilai-nilai yang berubah itu seperti nilai kegotongroyongan berganti menjadi nilai kontrak kerja dengan upah yang disesuaikan menurut jenis pekerjaannya. Hubungan kekerabatan bergeser menjadi hubungan struktural yang disusun dalamorganisasi formal perusahaan. Nilai-nilai kebersamaan berubah menjadi individualis dan nilai-nilai tentang pemanfaatan waktu yang cenderung tidak ketat berubah menjadi pembagian waktu yang tegas seperti jadwal kerja dan istirahat dalam dunia industri. Perubahan-perubahan ini, jika terjadi seara cepat atau mendadak, akan membuat kegoncangan proses-proses sosial di masyarakat, bahkan akan terjadi upaya penolakan terhadap semua bentuk perubahan karena dianggap mengacaukan tatanan kehiodupan masyarakat yang telah ada.

Jenis-jenis konflik :
Menurut Dahrendorf, konflik dibedakan menjadi 4 macam :
  • Konflik antara atau dalam peran sosial (intrapribadi), misalnya antara peranan-peranan dalam keluarga atau profesi (konflik peran (role))
  • Konflik antara kelompok-kelompok sosial (antar keluarga, antar gank).
  • Konflik kelompok terorganisir dan tidak terorganisir (polisi melawan massa).
  • Koonflik antar satuan nasional (kampanye, perang saudara)
  • Konflik antar atau tidak antar agama
  • Konflik antar politik.

Akibat konflik :
Hasil dari sebuah konflik adalah sebagai berikut :
  • meningkatkan solidaritas sesama anggota kelompok (ingroup) yang mengalami konflik dengan kelompok lain.
  • keretakan hubungan antar kelompok yang bertikai.
  • perubahan kepribadian pada individu, misalnya timbulnya rasa dendam, benci, saling curiga dll.
  • kerusakan harta benda dan hilangnya jiwa manusia.
  • dominasi bahkan penaklukan salah satu pihak yang terlibat dalam konflik.
Para pakar teori telah mengklaim bahwa pihak-pihak yang berkonflik dapat memghasilkan respon terhadap konflik menurut sebuah skema dua-dimensi; pengertian terhadap hasil tujuan kita dan pengertian terhadap hasil tujuan pihak lainnya. Skema ini akan menghasilkan hipotesa sebagai berikut:
  • Pengertian yang tinggi untuk hasil kedua belah pihak akan menghasilkan percobaan untuk mencari jalan keluar yang terbaik.
  • Pengertian yang tinggi untuk hasil kita sendiri hanya akan menghasilkan percobaan untuk "memenangkan" konflik.
  • Pengertian yang tinggi untuk hasil pihak lain hanya akan menghasilkan percobaan yang memberikan "kemenangan" konflik bagi pihak tersebut.
  • Tiada pengertian untuk kedua belah pihak akan menghasilkan percobaan untuk menghindari konflik.

Agus M. Hardjana mengemukakan sepuluh penyebab munculnya konflik , yaitu:
a. Salah pengertian atau salah paham karena kegagalan komunikasi
b. Perbedaan tujuan kerja karena perbedaan nilai hidup yang dipegang
c. Rebutan dan persaingan dalam hal yang terbatas seperti fasilitas kerja dan jabatan
d. Masalah wewenang dan tanggung jawab
e. Penafsiran yang berbeda atas satu hal, perkara dan peristiwa yang sama
f. Kurangnya kerja sama
g. Tidak mentaati tata tertib dan peraturan kerja yang ada
h. Ada usaha untuk menguasai dan merugikan
i. Pelecehan pribadi dan kedudukan
j. Perubahan dalam sasaran dan prosedur kerja sehingga orang menjadi merasa tidak jelas tentang apa yang diharapkan darinya
Stoner sendiri menyatakan bahwa penyebab yang menimbulkan terjadinya konflik adalah :
a. Pembagian sumber daya (shared resources)
b. Perbedaan dalam tujuan (differences in goals)
c. Ketergantungan aktivitas kerja (interdependence of work activities)
d. Perbedaan dalam pandangan (differences in values or perceptions)
e. Gaya individu dan ambiguitas organisasi (individual style and organizational ambiguities)
Robbins sendiri membedakan sumber konflik yang berasal dari karakteristik perseorangan dalam organisasi dan konflik yang disebabkan oleh masalah struktural. Dari sini kemudian Robbins menarik kesimpulan bahwa ada orang yang mempunyai kesulitan untuk bekerja sama dengan orang lain dan kesulitan tersebut tidak ada kaitannya dengan kemampuan kerja atau interaksinya yang formal. Konflik perseorangan ini disebut Robbins dengan konflik psikologis .
Untuk itulah Robbins kemudian memusatkan perhatian pada sumber konflik organisasi yang bersifat struktural. Sumber-sumber konflik yang dimaksudkan Robbins, yaitu:
a. Saling ketergantungan pekerjaan
b. Ketergantungan pekerjaan satu arah
c. Diferensiasi horizontal yang tinggi

d. Formalisasi yang rendah
e. Ketergantungan pada sumber bersama yang langka
f. Perbedaan dalam kriteria evaluasi dan sistem imbalan
g. Pengambilan keputusan partisipatif
h. Keanekaragaman anggota
i. Ketidaksesuaian status
j. Ketakpuasan peran
k. Distorsi komunikasi

Teknik-teknik utama untuk memecahkan konflik :
Upaya penangan konflik sangat penting dilakukan hal ini disebabkan karena setiap jenis perubahan dalam suatu organisasi cenderung mendatangkan konflik. Perubahan yang terjadi, baik itu direncanakan atau tidak, tidak hanya berdampak pada perubahan struktur dan personal tetapi juga berdampak pada terciptanya hubungan pribadi dan organisasional yang berpotensi menimbulkan konflik.Untuk itulah diperlukannya upaya untuk menangani konflik secara serius agar keberlangsungan suatu organisasi tidak terganggu.
Menurut Stonner ada 3 metode yang dapt digunakan untuk menyelesaikan konflik :
1.      Dominasi dan penguasaan, hal ini dilakukan dengan cara paksaan, perlunakan, penghindaran dan                
      penentuan suara terbanyak.
2.      Kompromi
3.      Pemecahan masalah secara menyeluruh

   Konflik yang sudah terjadi juga bisa diselesaikan dengan cara perundingan kedua belah pihak atau pihak yang bersangkutan secara baik dan bijak guna mencari jalan keluar yang dapat menguntungkan kedua belah pihak atau pihak yang bersangkutan. Gaya perundingan untuk mengelola konflik dapat dilakukan dengan cara :
        a.       Pencairan, yaitu dengan melakukan dialog untuk mndaptkan pengertian
        b.      Keterbukaan antar pihak pihak yang bersangkutan
c.          c.       Belajar empati, yaitu saling mengerti satu sama lain
        d.      Mencari alternative
        e.       Menghasilkan alternative
        f.       Managgapi berbagai alternative
        g.      Mencari penyelesaian
        h.      Dan mengikat seluruh kelompok



        disadur dari :



Saturday, October 29, 2011

FLOWCHART PEMBUATAN KRS

Add caption




KETERANGAN :
  1. Mahasiswa membawa blanko pembayaran kuliah yang berwarna merah kemudian diberikan ke front office di PSMA online untuk dicek.
  2. Setelah dicek mahasiswa akan dipanggil untuk masuk pada tahap pengisian KRS.
  3. Sebelum mengisi KRS mahasiswa mengambil FRS untuk melihat mata kuliah yang disediakan untuk meminimalisasi terjadinya kesalahan dalam memasukkan data.
  4. Kemudian mahasiswa mengisi KRS, dan data dikirimkan ke ketua jurusan dan Baak secara online.
  5. Selanjutnya KRS akan dicetak dan mahasiswa mempersiapkan pas foto ukuran 3 x 4 untuk d tempel pada KRS dan dicap, lalu KRS diberikan kepada mahasiswa yang bersangkutan. 

Friday, October 7, 2011

1 kata yg disebut " C I N T A "

Cinta adalah sebuah perasaan yang diberikan Tuhan pada sepasang manusia untuk "saling . . ." (saling mencintai, saling memiliki, saling memenuhi, saling pengertian dll). Cinta hanya dapat berjalan apabila keduanya melakukan “saling . . .” tersebut. Cinta tidak dapat berjalan apabila mereka mementingkan diri sendiri ! Karena dalam berhubungan, pasti menginginkan suatu perhatian lebih dan itu hanya bisa di dapat dari pengertian pasangannya.
Cinta adalah memberikan kasih sayang bukannya rantai. Cinta juga tidak bisa dipaksakan tidak di sengaja. Cinta itu indah namun kepedihan yang ditinggalkannya kadang berlangsung lebih lama dari cinta itu sendiri. Batas cinta dan benci juga amat tipis tapi dengan cinta dunia yang kita jalani serasa lebih ringan. dan datangnya pun kadang secara
Cinta itu perasaan seseorang terhadap lawan jenisnya karena ketertarikan terhadap sesuatu yang dimiliki oleh lawan jenisnya (misalnya sifat, wajah dan lain lain). Namun diperlukan pengertian dan saling memahami untuk dapat melanjutkan hubungan, haruslah saling menutupi kekurangan dan mau menerima pasangannya apa adanya, tanpa pemaksaan oleh salah satu pihak. Berbagi suka bersama dan berbagi kesedihan bersama.
Cinta itu adalah sesuatu yang murni, putih, tulus dan suci yang timbul tanpa adanya paksaan atau adanya sesuatu yang dibuat-buat, cinta itu dapat membuat orang itu dapat termotivasi untuk melakukan perubahan yang lebih baik daripada sebelum ia mengenal cinta itu. Cinta itu sesuatu yang suci dan janganlah kita menodai cinta yang suci itu dengan ke-egoisan kita yang hanya menginginkan kesenangan sendiri ! TIPS : untuk mengawetkan cinta dibutuhkan PENGERTIAN!
Suatu perasaan terdalam manusia yang membuatnya rela berkorban apa saja demi kebahagiaan orang yang dicintainya. Pengorbanannya itu tulus, tidak mengharap balasan. Kalau misalnya memberi banyak hadiah ke seseorang tapi dengan syarat orang itu harus membalasnya dengan mau jadi kekasihnya, itu bukan cinta namanya. Cinta tidak bisa diukur dengan materi ataupun yang berasal dari dunia fana. Dan percayalah cinta terbesar biasanya selalu datang dari ibu kandung, bukan dari pacar (sebab cinta pacar bisa luntur suatu saat atau setelah menikah kelak).
Cinta membuat bahagia, duka ataupun buta. Cinta itu penuh pengorbanan, kepahitan, keindahan dan kehangatan. Cinta adalah sebuah keinginan untuk memberi tanpa harus meminta apa-apa, namun cinta akan menjadi lebih indah jika keduanya saling memberi dan menerima, sehingga kehangatan, keselarasan dan kebersamaan menjalani hidup dapat tercapai. Cinta adalah kata yang memiliki banyak makna, bergantung bagaimana kita menempatkannya dalam kehidupan.
Cinta itu bisa membuat orang buta akan segalanya hanya demi rasa sayang terhadap sang kekasih. Kita juga tau apa maknanya cinta itu. Cinta pasti bisa membuat orang merasakan suka dan duka pada waktu yang sama ketika kita berusaha mendapat kebahagiaan bersama. Jadi bukanlah kebahagiaan untuk kita sendiri. Meskipun demikian kita jangan sampai salah langkah agar tidak menuju kesengsaraan. Lakukanlah demi orang yang kamu kasihi agar kau tidak merasa sia-sia tanpa guna. Karena hal itulah yang membuat hidup menjadi lebih hidup (Losta Masta).
Cinta adalah perasaan hangat yang mampu membuat kita menyadari betapa berharganya kita, dan adanya seseorang yang begitu berharga untuk kita lindungi. Cinta tidaklah sebatas kata-kata saja, karena cinta jauh lebih berharga daripada harta karun termahal di dunia pun. Saat seseorang memegang tanganmu dan bilang ” Aku cinta kamu…” pasti menjadi perasaan hangat yang istimewa! Karena itu, saat kamu sudah menemukan seseorang yang begitu berharga buat kamu, jangan pernah lepaskan dia! Namun adakalanya cinta begitu menyakitkan, dan satu-satunya jalan untuk menunjukkan cintamu hanyalah merlekan dia pergi.
Cinta itu adalah sebuah perasaan yang tidak ada seorangpun bisa mengetahui kapan datangnya, bahkan sang pemilik perasaan sekalipun. Jika kita sudah mengenal cinta, kita akan menjadi orang yang paling berbahagia di dunia ini. Akan tetapi, bila cinta kita tak terbalas, kita akan merasa bahwa kita adalah orang paling malang dan kita akan kehilangan gairah hidup. Dengan cinta, kita bisa belajar untuk menghargai sesama, serta berusaha untuk melindungi orang yang kita cintai, apapun yang akan terjadi pada kita.
Cinta merupakan anugerah yang tak ternilai harganya dan itu di berikan kepada makhluk yang paling sempurna, manusia. Cinta tidak dapat diucapkan dengan kata-kata, tidak dapat dideskripsikan dengan bahasa apaun. Cinta hanya bisa dibaca dengan bahasa cinta dan juga dengan perasaan. Cinta adalah perasaan yang universal, tak mengenal gender, usia, suku ataupun ras. Tak perduli cinta dengan sesama mansuia, dengan tumbuhan, binatang, roh halus, ataupun dengan Sang Pencipta. Lagipula, cinta itu buta. Buta sama dengan meraba-raba. Jadi… cinta itu meraba-raba…(^o^)/… meraba-raba isi hati yang dicinta !
Intinya cinta itu harus dihargai ! apabila seseorang telah mengorbankan sesuatu untuk mendapatkan cintamu, hargai itu !! Hargai setiap detik pengorbanan seseorang untuk mendapatkan cintamu. Cinta tidak memerlukan kata EGOIS ! karena cinta itu dilakukan bersama-sama bukan individual. Senang, sedih, susah, ataupun bahagia tetap dijalanin dan dirasakan bersama. Jangan pernah memberi sesuatu harapan kepada seseorang yg berusaha mendapatkan cintamu, karena itu akan menyakiti perasaannya.
Cinta itu kejujuran! bukan sebuah pelampiasan, permainan, dan sebagainya. Cinta itu bukan sebuah janji, melainkan mengalir apa adanya. Cinta itu hanya butuh : pengertian, dihargai, ketulusan, kemurnian, dan benar-benar dilakukan setulus hati. Apabila kamu mendapatkan seseorang yg benar-benar tulus dan baik padamu, jangan memanfaatkan nya. Tapi kamu harus mempertahankannya dan menjaganya agar tetap selalu dihatimu ! Jadi apapun cinta, jalani apa adanya dan tetap jadi diri sendiri ^.^

sedikit sumber dari : http://izzasyifa.wordpress.com/2006/06/29/kumpulan-arti-cinta/

Thursday, October 6, 2011

Teori-Teori Organisasi

           Manusia adalah mahluk social yang cenderung untuk hidup bermasyarakat serta mengatur dan mengorganisasi kegiatannya dalam mencapai sautu tujuan tetapi karena keterbatasan kemampuan menyebabkan mereka tidak mampu mewujudkan tujuan tanpa adanya kerjasama. Hal tersebut yang mendasari manusia untuk hidup dalam berorganisasi.
           Organisasi (dalam bahasa Yunani: ὄργανον, organon – alat) adalah suatu kelompok orang dalam suatu wadah untuk tujuan bersama. Organisasi dapat terbentuk karena adanya visi dan misi serta tujuan yang sama sekelompok orang tehadap masyarakat.
            Organisasi bukan sekadar kumpulan orang dalam kelompok atau jamaah tertentu. Tetapi organisasi mempunyai dua atribut inti yakni sekumpulan orang dan sistem. Sistem adalah kesatuan nilai integral yang dianut dan dipatuhi untuk dijalani bersama agar mencapai tujuan bersama (bukan sekadar tujuan yang sama).

Definisi tentang Organisasi menurut beberapa ahli
  • Menurut ERNEST DALE : Organisasi adalah suatu proses perencanaan yang meliputi penyusunan, pengembangan, dan pemeliharaan suatu  struktur atau pola hubunngan kerja dari orang-orang dalam suatu kerja kelompok.
  • Menurut CYRIL SOFFER : Organisasi adalah perserikatan orang-orang yang masing-masing diberi peran tertentu dalam suatu system kerja dan pembagian dalam mana pekerjaan itu diperinci menjadi tugas-tugas, dibagikan kemudian digabung lagi dalam beberapa bentuk hasil. 
  • Menurut KAST & ROSENZWEIG : Organisasi adalah sub system teknik, sub system structural, sub system pshikososial dan sub system manajerial dari lingkungan yang lebih luas dimana ada kumpulan orang-orang berorenteasi pada tujuan.
  • Menurut STONER : organisasi adalah suatu pola hubungan-hubungan yang melalui mana orang-orang di bawah pengarahan atasan mengejar tujuan bersama.
  • Menurut JAMES D. MOONEY : organisasi adalah bentuk setiap perserikatan manusia untuk mencapai tujuan bersama.
  • Menurut CHESTER I. BERNARD : organisasi adalah merupakan suatu sistem aktivitas kerja sama yang dilakukan oleh dua orang atau lebih.
  • Menurut STEPHEN P. ROBBINS : Organisasi adalah kesatuan (entity) sosial yang dikoordinasikan secara sadar, dengan sebuah batasan yang relatif dapat diidentifikasi, yang bekerja atas dasar yang relatif terus menerus untuk mencapai suatu tujuan bersama atau sekelompok tujuan.
  • Menurut NANCY DIXON (1994) : “Inti organisasi belajar adalah kemampuan organisasi untuk memanfaatkan kapasitas mental dari semua anggotanya guna menciptakan sejenis proses yang akan menyempurnakan organisasi”.
  • Menurut PETER SENGE (1990) :  “Organisasi di mana orang-orangnya secara terus-menerus mengembangkan kapasitasnya guna menciptakan hasil yang benar-benar mereka inginkan, di mana pola-pola berpikir baru dan berkembang dipupuk, di mana aspirasi kelompok diberi kebebasan, dan di mana orang-orang secara terus-menerus belajar mempelajari (learning to learn) sesuatu secara bersama”.
  • Menurut DIANA SIREGAR (ITB) : ”Organisasi belajar adalah organisasi yang mampu melaksanakan proses transformasi pengetahuan secara siklikal-berkelanjutan, dari pengetahuan pekerja sebagai hasil belajar mandiri menjadi pengetahuan organisasi sebagai hasil belajar organisasional, untuk menumbuh kembangkan modal organisasi”
Ciri-ciri Organisasi, antara lain :

a. Ciri Organisasi
  1. Adanya tujuan yang sama.
  2. Adanya pendelegasian wewenang dan koordinasi tugas-tugas.
  3. Adanya kerjasama.
  4. Adanya sarana.
  5. Adanya keterikatan format dan tata tertib yang harus ditaati.
b. Ciri Organisasi modern
  1. Adanya prinsip atau azas organisasi
  2. Kecenderungan spesialisasi
  3. Unsur-unsur organisasi lengkap
  4. penggunaan staf lebih intensif
  5. Pengolahan data semakin cepat
  6. Organisasi bertambah besar
Unsur-Unsur Organisasi, antara lain :

  1. Manusia ( MAN ), dalam kehidupan organisasi atau ketatalembagaan sering disebut dengan istilah pegawai atau personnel. Pegawai atau personnel terdiri dari semua anggota atau warga organisasi, yang menurut fungsi dan tingkatannya terdiri dari unsur pimpinan (administrator) sebagai unsur pimpinan tertinggi dalam organisasi.
  2. Kerjasama, kerjasama merupakan suatu perbuatan bantu-membantu akan suatu perbuatan yang dilakukan secara bersama-sama untuk mencapai tujuan bersama. Oleh karena itu, semua anggota atau semua warga yang menurut tingkatan-tingkatannya dibedakan menjadi administrator, manajer, dan pekerja (workers), secara bersama-sama merupakan kekuatan manusiawi (man power) organisasi.
  3. Tujuan Bersama, tujuan merupakan arah atau sasaran yang dicapai. Tujuan menggambarkan tentang apa yang akan dicapai atau yang diharapkan. Tujuan merupakan titik akhir tentang apa yang harus dikerjakan. Tujuan juga menggambarkan tentang apa yang harus dicapai melalui prosedur, program, pola (network), kebijaksanaan (policy), strategi, anggaran (budgeting), dan peraturan-peraturan (regulation) yang telah ditetapkan.
  4. Peralatan ( EQUIPMENT )unsur yang keempat adalah peralatan atau equipment yang terdiri dari semua sarana, berupa materi, mesin-mesin, uang, dan barang modal lainnya.
  5. Lingkungan ( EVIRONMENT ), faktor lingkungan misalnya keadaan sosial, budaya, ekonomi, dan teknologi. Termasuk dalam unsur lingkungan, antara lain :                                                                   a. Kondisi atau situasi yang secara langsung maupun secara tidak langsung berpengaruh terhadap daya  gerak kehidupan organisasi, karena kondisi atau situasi akan selalu mengalami perubahan.         b. Tempat atau lokasi, sangat erat hubungannya dengan masalah komunikasi dan transportasi yang harus dilakukan oleh organisasi.                                               c. Wilayah operasi yang dijadikan sasaran kegiatan organisasi. Wilayah operasi dibedakan menjadi :
    • Wilayah kegiatan, yang menyangkut jenis kegiatan atau macam  kegiatan apa saja yang boleh dilakukan sesuai dengan tujuan organisasi.
    • Wilayah personil, menyangkut semua pihak (orang-orang, badan-badan) yang mempunyai hubungan dan kepentingan dengan organisasi.
  6. Kekayaan Alam
  7. Kerangka/ Konstruksi Mental Organisasi
Teori-Teori Organisasi, antara lain :
  • TEORI ORGANISASI KLASIK
Konsep-konsep tentang organisasi sebenarnya telah berkembang mulai tahun 1800-an, dan konsep-konsep ini sekarang dikenal sebagai teori klasik (classical theory), atau kadang-kadang disebut juga teori tradisional. Contoh organisasi yang telah menggunakan teori klasik sejak lama adalah Gereja Katolik Roma.
Teori klasik berkembang dalam 3 aliran : birokrasi, teori administrasi dan manajemen ilmiah. Birokrasi dikembangkan dari ilmu sosiologi, sedangkan teori administrasi dan manajemen ilmiah dikembangkan langsung dari pengalaman praktek manajemen. Teori administrasi memusatkan diri pada aspek makro dari organisasi. Aliran manajemen ilmuah memberi tekanan pada karyawan dan mandor dalam kegiatan perusahaan, atau elemen mikro sebagai suatu bagian dari proses kerja. 
Teori klasik mendefinisikan organisasi sebagai struktur hubungan, kekuasaan-kekuasaan, tujuan-tujuan, peranan-peranan, kegiatan-kegiatan, komunikasi, dan faktor-faktor lain yang terjadi bila orang-orang bekerja sama.
TEORI BIROKRAS 
Teori ini dikemukakan oleh Max Weber dalam bukunya : The Protestant Ethic and Spirit of Capitalism. Kata birokrasi bermula berasal dari kata legal-rasional. Organisasi disebut rasional dalam hal penetapan tujuan dan rancangan organisasi untuk mencapai tujuan terserbut. Organisai itu legal karena wewenangnya berasal dari seperangkat aturan, proseur dan peranan yang dirumuskan secara jelas. Menurut Weber bentuk organisasi yang birokratik secara kodratnya adalah bentuk organisasi yang paling efisien. Organisasi birokratik mempunyai karakteristik-karakteristik birokrasi. Berikut adalah karakteristik-karakteristikbirokrasi yang dikemukakan oleh Weber :
  • Pembagian kerja yang jelas.
  • Hirarki wewenang.
  • Program rasional.
  • Sistem prosedur.
  • Sistem aturan
  • Hubungan-hubungan antar pribadi.
Jadi, birokrasi adalah sebuah model organisasi normatif, yang menekankan struktur dalam organisasi. Konsep teori birokrasi ini sekarang banyak digunakan di organisasi perusahaan,, sekolah-sekolah, peerintah dan organisasi-organisasi besar lainnya.
TEORI ADMINISTRASI
Teori Administrasi adalah bagian kedua dari teori organisasi klasik. Seperti teori klasik lainnya, teori administrasi juga berkembang sejak tahun 1900. Teori ini sebagian besar dikembangkan atas dasr sumbangan Henry Fayol dan Lyndall Urwick dari Eropa, serta Mooney dan Reiley di Amerika. Henry Fayol, menyatakan bahwa semua kegiatan-kegiatan industrial dapat dibagi menjadi 6 kelompok, yaitu :
  • Kegiatan-kegiatan teknikal (produksi, manufacturing, adaptasi).
  • Kegiatan-kegiatan komersial (pembelian, pemjualan, pertukaran).
  • Kegiatan-kegiatan finansial (pencarian suatu penggunaan optimum dari modal).
  • Kegiatan-kegiatan keamanan (perlindungan terhadap kekayaan dan personalia organisasi).
  • Kegiatan-kegiatan akuntansi (penentuan persediaan, biaya, penyusunan neraca dan laporan rugi-laba, statistik).
  • Kegiatan-kegiatan manajerial (perencanaan, pengorganisasian, pemberian perintah, pengkoordinasian dan pengawasan). 
Fayol merasa bahwa walaupun manajemen hanya merupakan salah satu dari enam kelompok kegiatan-kegiatan yang diperlukan dalam perusahaan-perusahaan, barangkali merupakan hal yang paling penting. Maka dari itu, Fayol juga mengemukakan dan membahas 14 kaidah manajemen yang menjadi dasar perkembangan teori administrasi,
  • Pembagian kerja
  • Wewenang dan tanggung jawab
  • Disiplin
  • Kesatuan perintah
  • Kesatuan pengarahan
  • Mendahulukan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi
  • Balas jasa
  • Sentralisasi
  • Rantai skalar
  • Aturan
  • Keadilan
  • Kelanggengan personalia
  • Inisiatif
  • Semangat korps
Di samping itu, Fayol memerinci fungsi-fungsi kegiatan administrasi menjadi "elemen-elemen" manajemen : perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), pemberian perintah (comanding), pengkoordinasian (coordinating), dan pengawasan (controlling). Pembagian kegiatan-kegiatan administrasi atas fungsi-fungsi ini dikenal sebagai Teori Fungsionalisme Fayol.

Gulick dan Urwick juga memperkenalkan prinsip-prinsip yang berhubungan dengan pembagian kerja, koordinasi, penciptaan departemen-departemen yang disusun atas dasar tujuan, proses personalia dan tempat, dan penggunaan staf. Dasar-dasar teori organisasi klasik, menurut Urwick, bersifat universal. Ia juga menambahkan teknik analisa rentang kendali, hubungan lini-staf dan fungsionalisme.

Menurut Mooney dan Reilly, koordinasi adalah faktor terpenting dalam perencanaan organisasi  maupun bangun teori yang mereka kemukakan, berbeda dengan pendapat Weber. Mereka menekankan 3 prinsip organisasi yang mereka teliti dan temukan telah dijalankan dalam organisasi-organisasi pemerintahan, agama, militer dan bisnis. Ketiga prinsip itu adalah : 
  • Prinsip Koordinasi
  • Prinsip Skalar
  • Prinsip Fungsional
MANAJEMEN ILMIAH

Manajemen ilmiah dikembangkan sejak sekitar tahun 1900 oleh Frederck Winslow Taylor, telah dipergunakan cukup luas. Teori manajemen ilmiah masih banyak dijumapi dalam praktek-praktek manajemen modern. Manajemen ilmiah mempunyai 2 arti. Yang pertama, manajemen ilmiah merupakan penerapan metode ilmiah pada studi, analisa, dan pemecahan masalah-masalah organisasi. Sedangkan arti kedua, manajemen ilmiah adalah seperangkat mekanisme-mekanisme atau teknik-teknik (a bag of tricks)
untuk meningkatkan efisiensi kerja organisasi. Taylor mencoba mengembangkan metode kerja yang lebih efisien dengan mengadakan pendekatan ilmiah terhadap masalah-masalah manajemen. Sebagai hasilnya dia mengemukakan 4 kaidah dasar manajemen, yaitu : 
  • Menggantikan metode-metode kerja dalam praktek dengan berbagai metode yang dikembangkan atas dasar ilmu pengetahuan tentang kerja yang ilmiah dan benar.
  • Mengadakan seleksi, latihan-latihan dan pengembangan para karyawan secara ilmiah.
  • Pengembangan ilmu tentang kerja serta seleksi, latihan dan pengembangan secara ilmiah harus diintegrasikan.
  • Mengembangkan semangat dan mental para karyawan melalui pendekatan antara karyawan dan manajer.
TEORI KLASIK : ANATOMI ORGANISASI FORMAL
Definisi Organisasi Formal

Tiga unsur pokok organisasi formal yang selalu muncul dalam literatur-literatur manajemen adalah :
  • Sistem kegiatan yang terkoordinasi
  • Kelompok orang
  • Kerjasama untuk mencapai tujuan
Definisi organisasi formal didapatkan dengan menggabungkan unsur-unsur tersebut.
Organisasi formal adalah sistem kegiatan yang terkoordinasi dari sekelompok orang yang bekerja bersama untuk mencapai tujuan dibawah kekuasaan dan kepemimpinan.
Dasar-dasar organisasi menurut teori klasik
Tergantung pada 4 kondisi, yaitu :
  1. Kekuasaan
  2. Saling melayani
  3. Doktrin
  4. Disiplin
Tiga dasar teori organisasi formal  
  1. Pembagian kerja
  2. Proses skalar dan fungsional
  3. Struktur
  • TEORI ORGANISASI NEOKLASIK
    Aliran pemikiran lebih lanjut yang muncul digambarkan sebagai neoklasik, dan secara sederhana dikenal sebagai teori atau aliran hubungan manusiawi (the human relations movement). Anggapan dasar teori neoklasik adalah menekankan pentingnya aspek psikologis dan sosial karyawan sebagai individu maupun sebagai bagian kelompok kerjanya. Atas dasar anggapan ini teori neoklasik mendefinisikan suatu organisasi sebagai kelompok orang dengan tujuan bersama.

    PERKEMBANGAN TEORI NEOKLASIK


    Dengan ilmu pengetahuan tentang perilaku manusia, penganut teori hubungan manusiawi menunjukkan bagaimana tiang dasar konsepsi klasik sangat ditentukan oleh kegiatan manusia.Lebih lanjut, pendekatan neoklasik mencakup uraian seistematis organisasi informal dan pengaruhnya pada organisasi formal.

     Munsterberg mengembangkan metode-metode tes psikologi ilmiah untuk mencari karakteristik fisik dan mental individu yang cocok dengan kebutuhan suatu jabatan. Jadi, pada dasarnya Munsterberg menekankanadanya perbedaan-perbedaan karakteristik individual dalam organisasi organisasi. Ia juga menambhakan adanya pengaruh faktor-faktor sosial dan budaya terhadap organisasi.

    Peranan Elton Mayo yang memperkenalkan pemikiran pentingnya faktor manusia dalam organisasi sangat besar pengaruhnya bagi perkembangan teori neoklasik. Para peneliti Hawthorne, mengemukakan pentingnya perasaan dan sikap para karyawan serta kelompok-kelompok kerja mereka. Disini jelas bahwa keterikatan pada organisasi informal atau kelompok sosial para pekerja lebih kuat pengaruhnya pada produktivitas kerja daripada keinginan perseorangan akan hasil yang lebih besar dan tuntutan formal organisasi. Dorongan akan efisiensi harus ditopang oleh pemahaman akan faktor manusiawi dalam kerja.


    Studi
    Hawthorne memperkenalkan gagasan bahwa organisasi adalah suatu sistem terbuka dimana segmen-segmen teknis dan manusiawi saling berkaitan erat, Studi-studi tersebut juga menekankan pentingnya sikap karyawan dalam era dimana insentif upah dan kondisi kerja fisik sering dipandang sebagai satu-satunya faktor yang menentukan produktivitas.

    KRITIK DAN "USUL" PERUBAHAN NEOKLASIK PADA TIANG DASAR TEORI ORGANISASI FORMAL


    Kritik dan perubahan-perubahan yang "diusulkan" oleh teori organisasi klasik dapat diuraikan berikut ini :
     
  •  Pembagian kerja (Division of  Labor)
Sejak pembagian kerja dilakukan, timbul masalah yang disebut anomie. Anomie adalah situasi dimana pedoman kerja tidak ada dan disiplin diri menjadi kurang. Oleh karena itu teori neoklasik mengemukakan perlunya :
  1. Partisipasi
  2. Perluasan kerja
  3. Management Bottom-Up
  • Proses-proses Skalar dan Fungsional
Proses skalar dan fungsional menimbulkan berbagai masalah dalam pendelegasian wewenang da tanggung jawab. Asumsi yang dipergunakan teori klasik mengenai proses pendelegasian adalah bahwa kapasitas individu sama dengan wewenang fungsinya. Neoklasik menyatakan bahwa kapasitas dan kekuasaan tak dapat dikompensasikan, karena bukan merupakan satu-satunya hubungan; ada faktor-faktor lain yang perlu diperhatikan terutama hasil kegiatan "kaki-tangan manusia".
  • Struktur Organisasi 
Tentang struktur organisasi, teori neoklasik menyatakan bahwa struktur merupakan penyebab terjadinya pergeseran-pereseran internal di antara orang-orang yang melaksanakan fungsi yang berbeda-beda. Pergeseran-pergeseran ini terjadi terutama antara orang-orang operasional (lini) dan orang-orang staf, Menurut Melville Dalton penyebabnya adalah :
  1. Perbedaan tugas
  2. Perbedaan umur dan pendidikan
  3. Perbeadaan sikap
  • Rentang Kendali
Neoklasik menyatakan bahwa rentang kendali atau rasio atasan-bawahan adalah tidak selalu 1 : 8  dan sebagainya. Penentuan rentang sangat tergantung pada perbedaan individu dalam kemampuan manajemennnya, tipe orangnya, efektivitas komunikasi, fungsi pengawasan formal, serta derajat sentralisasi, dimana neoklasik mengusulkan pengawasan bebas demokratis, sedang klasik memilih pengawasan ketat.
PANDANGAN NEOKLASIK TERHADAP ORGANISASI INFORMAL
Titik tekanan teori neoklasik adalah pada 2 elemen pokok dalam organisasi, yaitu perilaku individu dan kelompok pekerja. Faktor-faktor yang dapat menentukan munculnya organisasi informal, antara lain :
  1. Lokasi
  2. Jenis pekerjaan
  3. Minat
  4. Masalah-masalah khusus
Selama pendekatan mengadapi organisasi informal dipusatkan pada manajemen, cukup beralasan untuk memperkirakan bahwa standar dan norma-norma kelompok informal dapat menyebabkan tidak jalannya kebijaksanaan organisasi formal. Usaha yang lebih baik bagi manajer adalah mengembangakan suatu hubungan kerja dengan organisasi informal yang dapat menghasilkan keselarasan pandangan organisasi foral dan informal.
  • TEORI ORGANISASI MODERN
Aliran besar ketiga dalam teori organisasi dan manjemen adalah teori modern, yang kadamng-kadang disebut juga analisa sistem pada organisasi. Teori modern melihat semua unsur organisasi sebagai satu kesatuan. Teori modern mengemukakan bahwa organisasi bukanlah suatu sistem tertutup yang berkaitan dengan lingkungan yang stabil, tetapi organisasi adalah suatu sistem terbuka yang harus -- bila ingin mempertahankan kelangsungan hidupnya -- menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan lingkungannya. Teori modern adalah multidisiplin dengan sumbangan dari berbagai bidang displin ilmu pengetahuan. Interaksi dinamis antar proses-proses, bagian-bagian dan fungsi-fungsi dalam suatu organisasi, maupun dengan organisasi lain, dan dengan lingkungannya, merupakan inti pembahasan teori modern.
 DASAR PEMIKIRAN TEORI ORGANISASI MODERN
Teori organisasi dan manajemen modern dikembangkan sejak tahun 1950, walaupun beberapa tulisan telah dibuat sebelumnya.Teori modern dalam banyak hal yang mendasar berbeda dengan teori klasik. Teori modern, dengan tekanan pada perpaduan (synthesis) dan perancangan (design), menyediakan pemenuhan suatu kebutuhan yang menyeluruh.

Dengan berkembangnya teknologi dan majunya kegiatan-kegiatn perlu konsep sistem.  Maka timbullah perhatian pada operasi atau proses organisasi. Disini dikemukakkan pentingnya perencanaaan, pengorganisasian, pengawasan, komunikasi, dan integrasi demi kesuksesannya operasi tujuan-tujuan organisasi. Teori modern bisa disebut sebagai teori organisasi dan manajemen umum yag memadukan teori klasik dan neoklasik dengan konsep-konsep yang lebih maju.

Teori modern cenderung memandang organisasi sebagai siste terbuka, dengan dasar analisa konsepsual, dan didasarkan pada data empiris, serta sifatnya sintesa dan integratif. Sistem terbuka itu pada hakekeatnya merupakan transformasi masukan yang menghasilkan keluaran ; transformasi terdiri dari aliran informasi, bahan dan energi. Sedang pengertian sistem itu sendiri adalah sekelompok bagian-bagian yang bekerja bersama-sama untuk melakukan suatu maksud. Sistem terdiri dari subsistem tujuan, manajerial, teknis, psikososial dan struktural.

Teori modern menyebutkan bahwa kerja suatu organisasi adalah sangat kompleks, dinamis, multilevel, multidimensional, multivariabel dan probabilistik. Sebagai suatu sistem, organisasi terbagi menjadi 3 unsur, yaitu : 
  1. Unsur struktur yang bersifat makro
  2. Unsur proses yang juga bersifat makro
  3. Unsur perilaku anggota organisasi yang bersifat mikro
Dengan analisa sistem, teori organisasi modern mencoba untuk mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang saling berhubungan, dimana hal ini kurang ditekankan pada 2 teori organisasi lainnya.
Teori Sistem Umum 
Teori Sistem Umum  merupakan suatu aspek analisis organisai yang berusaha untuk menemukan kaidah-kaidah umum organisasi yang berlaku universal. Tujuan teori sistem umum adalah penciptaan suatu ilmu pengetahuan organisasional universal dengan menggunakan elemen-elemen dan proses-proses umum seluruh sistem sebagai titik awal. 
Ada beberapa tingkatan sistem yang harus diintegrasikan. Kenneth Boulding mengemukakan klasifikasi tingkat-tingkat sistem sbb : 
  • Struktur statik
  • Sistem dinamik sederhana
  • Sistem sibernetik
  • Sistem terbuka
  • Sistem genetika sosial 
  • Sistem hewani
  • Sistem manusiawi
  • Sistem sosial
  • Sistem transedental
Konsep sistem ini menjadi dasr utama analisa organisasi dalam teori organisasi modern. teori organisasi modern mempunyai kesamaan dengan teori sistem umum dalam cara memandang organisasi sebagai sesuatu yang terintegrasi. Perbedaanya hanya terletak pada tingkatan yang dicakup dalam bahasanya. Teori sistem umum membicarakan setiap tingkatan sistem, sedangkan teori organisasi modern memusatkan diri terutama pada tingkat organisasi manusia. Secara ringkas, kedua teori ini mempelajari : 
  1. Bagian-bagian (individu-individu) dalam keseluruhan dan pergerakan individu di dalam dan di luar sistem.
  2. Interaksi individe-individu dengan lingkungan yag terjadi dalam sistem.
  3. Interaksi di antara individu-individu dalam sistem.
  4. Masalah-masalah pertumbuhan dan stabilitas sistem.
Teori Organisasi Dalam Suatu Kerangka Sistem

Teori organisasi modern adalah multidisipliner yang konsep-konsep dan teknik-tekniknya dikembangkan dari banyak bidangstudi, seperti sosiologi, teori administrasi, ekonomi, psikologi, ekologi, operations research, dan banyak bidang-bidang lainnya. Faktor-faktor yeng membedakan kualitas teori organisasi modern dengan teori-teori organisasi lainnya adalah dasar konsepsional - analitiknya, sifat pemaduan dan pengintegrasiannya. Kualitas-kualitas ini merupakan kerangka filosofi yang diterima sebagai suatu cara untuk mempelajari organisasi sebagai suatu sistem.

Berikut ini akan diuraikan bermacam-macam unsur yang tecakup dalam analisis sistem, yaitu bagian-bagian organisasi sebagai suatu sistem, interaksinya, proses-proses dan tujuan-tujuan sistem.
  • Bagian-bagian dari sistem dan saling ketergantungannya. 
  1. Bagian dasar pertama sistem adalah individu, dan struktur kepribadiannya yang diberikan kepada organisasi. 
  2.  Bagian kedua sistem adalah penentuan fungsi-fungsi formal, yang biasa disebut organisasi formal. 
  3. Bagian ketiga dalam sistem organisasi adalah organisasi informal.
  4.  Bagian keempat adalah struktur status dan peranan. 
  5.  Bagian kelima adalah lingkungan fisik pekerjaan.
  •  Proses-proses hubungan dalam sistem
  1. Komunikasi. Komunikasi sebagai mekanisme yang menghubungkan bagian-bagian sistem secara bersama.
  2. Keseimbangan. Konsep keseimbangan adalah mengenai penyeimbangan mekanisme yang dicapai dengan jalan menjaga hubungan struktural yang harmonis antar bagian-bangian dalam sistem. Keduan bentuk keseimbangan ini, yaitu quasi-automatic dan inovatif, berusaha memelihara integritas sistem dalam menghadapi perubahan lingkungan, baik internal maupun eksternal, yang mempengaruhi sistem : Quasi-automatic dimaksudkan sebagai dinamika yang menjaga agar keadaan dalam sistem tetap stabil atau sering disebut sebagai homoestatis (keadaan stabil yang dicapai dengan dinamika bukan statis).
  3. Proses pengambilan keputusan. Merupakan varaibel internal dalam suatu organisasi yang tergantung pada pkerjaan-pekerjaan, harapan-harapan individu, motivasi dan struktur organisasi. Keputusan ini meliputi 2 hal pokok, yaitu keputusan untuk berproduksi dan keputusan untuk berpartisipasi dalam sistem. 
  • Tujuan-tujuan organisasi 
Organisasi-organisasi mempunyai 3 tujuan utama yang saling berhubungan, seperti dalam kasus berbagai sistem kompleks, atau hasil akhirnya saling tergantung. Tujuan-tujuan ini adalah pertumbuhan, stabilitas dan interaksi. 
  • Definisi organisasi menurut teori modern
Barnard mendefinisikan organisasi formal sebagai suatu sistem kegiatan-kegiatan yang secara sadar dikoordinasikan oleh 2 atau lebih orang. Atas dasar pendapat Barnard, kita dapat menarik kesimpulan tentang definisi teori modern. Teori modern mendefinisikan organisasi sebagai proses-proses yang tersususn dalam suatu sistem di mana orang-orang di dalamnya berinteraksi untuk mencapai tujuan. 
PENDEKATAN-PENDEKATAN  MANAJEMEN
  • Pendekatan Proses 
Pendekatan proses dalam manajemen juga disebut pendekatan fungsional, operasional, universal, tradisional atau klasik. Empat prinsip pendekatan proses klasik yang penting adalah : 
  1. kesatuan perintah
  2. persamaan wewenang dan tanggung jawab
  3. rentang kendali yang terbatas
  4. delegasi pekerjaan-pekerjaan rutin
  •  Pendekatan Keperilakuan 
Pendekatan keperilakuan muncul karena ketidakpuasan terhadap pendekatan klasik. Pendekatan ini, sering disebut pendekatan hubungan manusiawi, mengemukakan bahwa pendekatan klasik tidak sepenuhnya menghasilkan efisiensi produksi dan keharmonisan kerja, karena mengabaikan faktor perilaku masing-masing individu yang berbeda-beda dalam organisasi. Pendekatan keperilakuan menekankan pentingnya kooperasi dan moral karyawan.
  •   Pendekatan Kuantitatif
Pendekatan kuantitaif sering dinyatakan dengan istilah management science atau operations research (OR). Pendekatan ini terutama memandang manajemen dari perspektif model-model matematis dan proses-proses kuantitatif.

Menurut pendekatan kuantitatif, masalah-masalah manajemen dapat dirumuskan dan dijabarkan dalam berbagai bentuk model dan matematis, dan kemudian dianalisa serta  dipecahkan dengan menggunakan berbagai teknik atau metode kuatitatif untuk memperoleh hasil optimum. Pendekatan ini menganalisa masalah-masalah manajemen secara logik dan mengembangkan berbagai alternatif keputusan pemecahannya.
  • Pendekatan Sistem 
Pendekatan sistem dalam manajemen merupakan pendekatan yang ditetapkan paling akhir dan dapat dipahami dengan sudut pandangan teori sistem umum atau analisis sistem. Pendekatan sistem terutama menekankan saling ketergantungan dan keterikatan bagian-bagian organisasi sebagai keseluruhan.

Sebagai pendekatan dalam manajemen, sistem-sistem mencakup baik sistem-sistem umum dan terspesialisasi maupun analisis terbuka dan tertutup. Analisis berbagai sistem manajemen khusus meliputi bidang-bidang seperti struktur organisasi, desain pekerjaan, akuntansi, sistem informasi dan mekanisme-mekanisme perencanaan dan pengawasan.
  • Pendekatan Contingency (Situasional)
Pendekatan Contingency bermaksud untuk menjembatani gap yang ada antara teori dan praktek. Di samping itu, pendekatan contingency memasukkan variabel-variabel lingkungan dalam analisisnya, karena perbedaan kondisi lingkungan akan memerlukan aplikasi konsep atau teknik manajemen yag berbeda pula. 

Jadi, pendekatan contingency muncul karena ketidakpuasan atas anggapan keuniversalan dan kebutuhan untuk memasukkan berbagai variabel lingkungan ke dalam teori dan praktek manajemen. Ada 3 komponen pokok dalam kerangka konsepsual untuk pendekatan contingency : lingkungan, konsep-konsep dan teknik-teknik manajemen, dan hubungan contingensy antara keduanya. 

 


 disadur dari :
http://ye2couple.wordpress.com/2011/09/23/pengertian-teori-organisasi-dan-unsur-unsurnya/
http://efratmetal777.blogspot.com/2010/10/ciri-ciri-unsur-dan-teori-organisasi.html
http://brisingrraudhr.blogspot.com/2011/02/ringkasan-metode-dan-organisasi.html